/* /* Flying Css3 menu blog-kuliah.blogspot.com*/ #flyingmenubt,#flyingmenubt ul { list-style: none outside none; margin: 0; padding: 0; height:500px;} #flyingmenubt { font-family: "Lucida Sans Unicode",Verdana,Arial,sans-serif; font-size: 13px; height: 36px; list-style: none outside none; margin: 40px auto; text-shadow: 0 -1px 3px #202020; width: 980px; -moz-border-radius:4px; -webkit-border-radius:4px; border-radius:4px; -moz-box-shadow: 0px 3px 3px #cecece; -webkit-box-shadow: 0px 3px 3px #cecece; box-shadow: 0 3px 4px #8b8b8b; background-image: -webkit-gradient(linear, left bottom, left top, color-stop(0, #787878), color-stop(0.5, #5E5E5E), color-stop(0.51, #707070), color-stop(1, #838383)); background-image: -moz-linear-gradient(center bottom, #787878 0%, #5E5E5E 50%, #707070 51%, #838383 100%); background-color:#5f5f5f; } #flyingmenubt ul { left: -9999px; position: absolute; top: -9999px; z-index: 2; } #flyingmenubt li { border-bottom: 1px solid #575757; border-left: 1px solid #929292; border-right: 1px solid #5d5d5d; border-top: 1px solid #797979; display: block; float: left; height: 34px; position: relative; width: 105px; } #flyingmenubt li:first-child { border-left: 0 none; margin-left: 5px; } #flyingmenubt li a { color: #FFFFFF; display: block; line-height: 34px; outline: medium none; text-align: center; text-decoration: none; background-image: -webkit-gradient(linear, left bottom, left top, color-stop(0, #787878), color-stop(0.5, #5E5E5E), color-stop(0.51, #707070), color-stop(1, #838383)); background-image: -moz-linear-gradient(center bottom, #787878 0%, #5E5E5E 50%, #707070 51%, #838383 100%); background-color:#5f5f5f; } /* keyframes #animation1 */ @-webkit-keyframes animation1 { 0% {-webkit-transform: scale(1);} 30% {-webkit-transform: scale(1.3);} 100% {-webkit-transform: scale(1);}} @-moz-keyframes animation1 { 0% {-moz-transform: scale(1);} 30% {-moz-transform: scale(1.3);} 100% {-moz-transform: scale(1);}} #flyingmenubt li > a:hover { -moz-animation-name: animation1; -moz-animation-duration: 0.7s; -moz-animation-timing-function: linear; -moz-animation-iteration-count: infinite; -moz-animation-direction: normal; -moz-animation-delay: 0; -moz-animation-play-state: running; -moz-animation-fill-mode: forwards; -webkit-animation-name: animation1; -webkit-animation-duration: 0.7s; -webkit-animation-timing-function: linear; -webkit-animation-iteration-count: infinite; -webkit-animation-direction: normal; -webkit-animation-delay: 0; -webkit-animation-play-state: running; -webkit-animation-fill-mode: forwards; } #flyingmenubt li:hover > a { z-index: 4; } #flyingmenubt li:hover ul.subs { left: 0; top: 34px; width: 150px; } #flyingmenubt ul li { background: none repeat scroll 0 0 #838383; box-shadow: 5px 5px 5px rgba(0, 0, 0, 0.5); opacity: 0; width: 100%; /*-webkit-transition:all 0.3s ease-in-out; -moz-transition:all 0.3s ease-in-out; -o-transition:all 0.3s ease-in-out; -ms-transition:all 0.3s ease-in-out; transition:all 0.3s ease-in-out;*/ } /* keyframes #animation2 */ @-webkit-keyframes animation2 { 0% {margin-left:185px;} 100% {margin-left:0px;opacity:1;} } @-moz-keyframes animation2 { 0% {margin-left:185px;} 100% { margin-left:0px;opacity:1;} } #flyingmenubt li:hover ul li { /* css3 animation */ -moz-animation-name: animation2; -moz-animation-duration: 0.3s; -moz-animation-timing-function: linear; -moz-animation-iteration-count: 1; -moz-animation-direction: normal; -moz-animation-delay: 0; -moz-animation-play-state: running; -moz-animation-fill-mode: forwards; -webkit-animation-name: animation2; -webkit-animation-duration: 0.3s; -webkit-animation-timing-function: linear; -webkit-animation-iteration-count: 1; -webkit-animation-direction: normal; -webkit-animation-delay: 0; -webkit-animation-play-state: running; -webkit-animation-fill-mode: forwards; /*-webkit-transition:all 0.3s ease-in-out; -moz-transition:all 0.3s ease-in-out; -o-transition:all 0.3s ease-in-out; -ms-transition:all 0.3s ease-in-out; transition:all 0.3s ease-in-out;*/ } /* animation delays */ #flyingmenubt li:hover ul li:nth-child(1) { -moz-animation-delay: 0; -webkit-animation-delay: 0; } #flyingmenubt li:hover ul li:nth-child(2) { -moz-animation-delay: 0.05s; -webkit-animation-delay: 0.05s; } #flyingmenubt li:hover ul li:nth-child(3) { -moz-animation-delay: 0.1s; -webkit-animation-delay: 0.1s; } #flyingmenubt li:hover ul li:nth-child(4) { -moz-animation-delay: 0.15s; -webkit-animation-delay: 0.15s; } #flyingmenubt li:hover ul li:nth-child(5) { -moz-animation-delay: 0.2s; -webkit-animation-delay: 0.2s; } #flyingmenubt li:hover ul li:nth-child(6) { -moz-animation-delay: 0.25s; -webkit-animation-delay: 0.25s; } #flyingmenubt li:hover ul li:nth-child(7) { -moz-animation-delay: 0.3s; -webkit-animation-delay: 0.3s; } #flyingmenubt li:hover ul li:nth-child(8) { -moz-animation-delay: 0.35s; -webkit-animation-delay: 0.35s; }

Rabu, 11 Desember 2013

Devinisi Ushul Fiqh

Kalimat ushul fiqh terdiri dari dua kata, yaitu kalimat ushul dan fiqh. Ushul adalah kata jamak dari ashal ( اصل ). Ashal menurut etimologi ialah pangkal, pokok, dasar dll. Misalnya: fondasi adalah tempat rumah didirikan; akar adalah penguat tegaknya pohon dan sebagainya.

Sedangkan lawan kata dari pada ashal adalah cabang ( فرع ). Jadi, jika keterangan tersebut dipakai sebagai acuan, rumah adalah cabang sedangkan fondasinya adalah ashal.

Kata yang kedua ialah fiqh, menurut etimologi artinya paham, sedangkan menurut terminology ialah:

هو العلم بالاحكام الشرعية العملية المكتسبة من ادلتها التفصيلية

“……mengetahui hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan amal perbuatan yang diambil dari dalil-dalil secara terperinci “

seperti perbuatan mukalllaf. Baik perbuatan anggota maupum batin, seperti hukum wajib, haram, mubah, sah atau tidaknya perbuatan itu.

Jika disimpulkan ta’rif ushul fiqh ialah :

هو العلم بالقواعد والبحوث التي يتوصل بها الي الاستفادة من الاحكام الشرعية العملية من ادلتها التفصيلية

“…..ilmu pengetahuan tentang kaidah-kaidah dan pembahasan yang dipergunakan dalam pengambilam hukum syara’ yang praktis dari dalil-dalil terperinci “

sedangkan dalil-dalil hukum tersebut bersumber (mengambil) dari Al qur’an, hadis, ijma’, dan qiyas. Yang telah menjadi ketetapan para ulama’ mujtahid.

Sedangkan devinisi kaidah ialah :

هي الظوابط الكلية العامة التي تشتمل علي احكام جزئية

“…. Batasan-batasan kuli yang juga umum yang bisa mencakup pada hukum juz’i”. contoh: amr itu menunjukkan wajib dan larangan menunjukkan keharaman, seperti firman Allah ta’ala:

واقيموا الصلاة واتوا الزكاة

Ayat tersebut menunjukkan akan kewajiban sholat dan zakat, sedangkan contoh larangan, yaitu firman Allah ta’ala:

لاتقربوا الزنا

Ayat tersebut menunjukkan akan keharaman berzina dan masih banyak contoh-contoh yang terdapat didalam Al qur’an.

Sedangkan yang dimaksud dengan “dalil-dalil tafsil” ialah:

هي الادلة الجزئية التي تتعلق بمسئلة بخصوصها وتدل علي حكم بعينه

“….dalil-dalil juz’i yang berkaitan pada permasalahan pada khususnya dan menunjukkan pada hukum secara spesifik “



Tujuan Ilmu Ushul Fiqh

Dari penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa pokok bahasan dalam ilmu ushul fiqh ialah meletakkan kaidah-kaidah yang dipergunakan dalam menetapkan hukum bagi setiap perbuatan atau perkataan mukallaf. Dengan merealisasikan kaidah tersebut maka seorang mukallaf bisa mengetahui atau memahami hukum-hukum syara’, juga memahami ketidak jelasan nash, juga dapat mengetahui apabila ada pertentangan diantara dua buah nash, jug dapat mengetahui cara-cara atau metode para mujtahid dalam mengambil hukum dari nash, dan juga dapat mengetahui perbedaan pendapat antara fuqoha’ dalam menentukan dan menetapkan terhadap beberapa kasus.

Tidak hanya sampai disitu tujuan dari ushul fiqh dan masih banyak yang lain yang berkaitan erat dengan ushul fiqh, semisal: istihsan, istishab, qiyas, ijma’, dll.



Pokok Bahasan Dalam Ushul Fiqh

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa pokok bahasan dalam ilmu ushul fiqh ialah sumber umum hukum syara’ itu sendiri dan hukum umum yang diperoleh dari sumber hukum syara’.

Ahli ushul fiqh berbicara tentang Al qur’an dan sunah dari segi lafadlnya, baik dalam bentuk amar, nahi, ‘am, khos, mutlaq dan muqayyad. Mereka bicarakan tentang ijma’, qiyas, istihsan, istishab, mafhum, maslahatul mursalah, syariat yang ditetapkan dalam umat yang terdahulu, yang dapat dijadikan dasar dalam penetapan hukum pada setiap ucapan dan perbuatan mukallaf.

Demikianlah para ahli ushul fiqh menbahas lafadl amar dari segi pengertian aslinya yang menunjukkan wajib, lafald nahi dari segi pengertian aslinya menunjukkan haram, lafadl umum (‘am) yang pengertiaannya meliputi semua yang dapat dimasukkan kedalam pengertian itu, lafadl mutlaq dilaksanakan menurut arti aslinya demikian juaga lafadl muqayyad. Maka untuk semua itu mereka tuangkan dalam kaidah tertentu yang dinamakan kaidah hukum umum (hukum kulli) yang diambil dari sumber atau dalil umum (dalil kulli). Oleh para fuqoha’ kaidah hukum kulli dijadikan dasar menetapkan hukum pada hukum tertentu. Umpamanya dari kaidah “amar lil wujud” diterapkan dalam perjanjian bersumber dari ayat yang berbunyi:

ياايهاالذين امنوا اوفوا بالعقود

Artinya:”hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu……” (S. Al Maidah 1)

Berdasarkan kaidah “amar lil wujud” memenuhi janji hukumnya wajib. Dalam ayat yang berbunyi:

ياايهاالذين امنوا لايسخر قوم من قوم

Artinya:” hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain……” (S. Al Hujarat 11)

Berdasarkan kaidah umum “nahi lit tahrim” maka ditetapkan merasa berbangga dan mengolok-ngolok golongan lain itu hukumnya haram. Dalam firman Allah yang berbunyi:

حرمت عليكم امهاتكم

Artinya:”diharamkan bagi kamu (mengawini) ibu-ibumu…..”(S.An nisa’ )

Berdasarkan keumuman ayat ini diharamkan mengawini ibu, baik ibu kandung maupun ibu susuan.

Dari uraian diatas jelaslah perbedaan antara dalil kulli dan dalil ju’i, hukum kulli dan hukum juz’i. dalil kulli ialah dalil umum yang dapat dimasukkan ke dalamnya beberapa kasus tertentu seperti amar, nahi, am, mutlaq, ijmak dan qiyas. Amar dikatakan hukum kulli karena ke dalamnya dapat dimasukkan semua lafadl yang menunjukkan perintah dan nahi dikatakan hukum kulli karena dapat dimasukkan ke dalamnya semua yang menunjukkan larangan. Amar dikatakan dalil kulli dan nash mengandung lafald amar dinamakan dalil juz’i. demikian juga nahi dalil kulli dan nash yang mengandung lafald nahi dinamakan dalil juz’i.

Hukum kulli ialah hukum umum yang masuk ke dalamnya beberapa macam seperti wajib, haram, sah, batal dan sebagainya. Wajib dinamakan hukum kulli, karena ke dalamnya dapat dimasukkan berbagai perbuatan yang wajib. Umpamanya wajib menunaikan janji, wajib mengadakan saksi dalam pernikahan. Haram adalah hukum kulli yang masuk kedalamnya beberapa macam perbuatan yang diharamkan seperti haramnya berbuat zina, haram menuduh berbuat zina, haram mencuri, haram membunuh dan sebagainya, dan haram atau wajib yang berlaku pada perbuatan tertentu dinamakan hukum juz’i.

Ahli ushul fiqh tidak membahas dalil juz’i dan tidak pula membahas hukum juz’i, namun yang mereka bahas adalah dalil dan hukum kulli yang mereka letakkan dalam kaidah umum yang nantinya oleh para fuqoha’ diterapkan pada setiap kasus. Sebaliknya para fuqoha’ tidak membahas dalil dan hukum kulli, namun yang mereka bahas adalah dalil dan hukum juz’i.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar